Cari Blog Ini


Daftar Blog Saya

Jumat, 12 Juli 2013

KOTAK MUSIK


KOTAK MUSIK

“Aishh…. kenapa sih aku ini?! setiap di depannya aku selalu saja salah tingkah. Aku seperti mempermalukan diriku sendiri. Hiihh… kenapa aku masih inget sama Angga? Kenapa sih aku masih suka sama dia? Kenapa? Kenapa? Padahal aku udah berusaha untuk ngelupainnya. Emang susah sih buat ngelupain seseorang yang kita suka, tapi kalau buat mencintai seseorang hanya dalam hitungan detik dan menit. Yaampunn… diriku ini kenapa sih? Ingat Sena! Angga itu udah punya pacar dia gak bakal suka sama kamu, gak bakal nembak kamu, gak akan pernah. Pasti dia itu Cuma cintanya sama Rina doang, gak bakal sama yang lain deh…” gumam Sena sambil berbaring di atas kasurnya dan memeluk boneka di dadanya. Sepertinya Sena sudah terlihat lelah dan mengantuk. Tanpa ia sadari ia tertidur. Kakak perempuannya yang baru saja pulang kerja, segera mengecek ke kamar Sena apa Sena sudah tidur atau belum? Setiap hari di lakukannya rutin.
“Anak itu sudah tidur rupanya. Wah.. cepat sekali padahal baru jam segini” ucapnya sambil menyelimuti Sena lalu menatap Sena dengan tatapan sayang antara kakak dan adik. Mereka tinggal berdua di rumah yang besar, ayah dan ibunya sedang ke luar negri cukup lama.

~*Kotak Musik*~
Keesokan harinya….
“Hoammmm…” Sena menguap panjang. Ia menggaruk-garuk kepalanya yang tidak gatal, ia mengucek-ngucek kedua matanya yang di penuhi oleh belek. Diliriknya jam waker berbentuk doraemon di atas lemari kamarnya. “pukul lima lebih dua puluh lima menit,” gumam Sena. Sena bergegas menuju kamar mandi untuk membersihkan mukanya.
Tok…Tok…Tok
Terdengar seseorang mengetuk pintu kamar Sena. “Siapa yaa??” Tanya Sena ia masih membersihkan mukanya.
“Ini kakak Sena, kamu lagi di mana?” ucapnya pelan sambil celingak-celinguk masuk ke dalam kamar Sena.
“Aku lagi di kamar mandi kak, emang kenapa?” Tanya Sena setengah berteriak.
“jangan mandi dulu yah!” perintahnya.
“Lho! Emangnya kenapa? Setiap hari kakak selalu menegurku untuk mandi?” tanyaku heran.
“Kakak mau ngajak kamu olahraga, ayo cepat! Kakak tunggu di bawah ya,” ucapnya sambil keluar dari kamar Sena. Sena pun keluar dari kamar mandi, ia segera menuju lemari mencari pakaian olahraga. Setelah menemukan baju olahraga itu, ia segera berganti baju tidurnya dengan baju olahraga, ia pun menyusul kakanya yang sudah menunggu di bawah terlebih dahulu.

~*Kotak Musik*~

“Kak aku belum makan, makan dulu yah” ucapnya setengah berjalan ke dapur.
“Nanti aja makannya, nih kakak udah bawa roti sandwich kesukaan mu sama minuman kesukaanmu”
“Yee Asikk….” Ucap Sena Senang, sambil bertepuk tangan sekali.
“Yaudah ayo!” ajaknya sambil mengunci pintu rumah.
Mereka pun berjalan jogging di tepi jalan dengan semangat, tapi tidak tau kenapa kakaknya Sena sepertinya dari tadi senyum-senyum sendiri. Mungkin ia memikirkan sesuatu yang lucu, itu membuat Sena merasa bingung dan heran pada kakanya.
Sekitar jam tujuh pagi, Kakak Sena mengajak Sena Senam pagi di taman nitenz tempat biasa di mana orang-orang berolahraga disana. Saat Sena melihat banyak sekali yang Senam di sini mulai dari anak kecil, dewasa hingga kakek, nenek ada disini. Sena dan kakanya pun mengikuti gerakan Senam dari belakang.
Sekitar pukul delapan Senam pun selesai. Semua orang sekarang sedang beristirahat.
Sena dan kakaknya sedang mencari tempat duduk untuk memakan bekal mereka, tapi tiba-tiba saja ada yang meneriakan nama kakaknya Sena. “Natelii! Nateli!” seru suara itu membuat Sena dan kakaknya menoleh kebelakang. Sena melihat seorang pemuda tinggi putih, tampan sedang berjalan kearah kakanya Sena, nampaknya itu teman kakaknya Sena.
“Hai Nateli, kesini sama siapa?” Tanya pemuda itu dengan ekspresi wajah ceria.
“Sama adikku, ini adik ku namanya Sena, Sena ini temen kakak namanya Ray” ucap kakaknya memperkenalakan Sena. Sena pun tersenyum manis, Sena di puji oleh Ray kalau Sena cantik dan manis seperti kakaknya.
“Ray kamu kesini sama siapa?” Tanya Ray balik.
“Kalau aku sama temen tetanggaku, nah itu orangnya sebentar aku panggil dulu”
“Angga! Angga!” teriak Ray kepada Angga.
“Hah Angga! Apa? Angga ada disini! OMG! Aduhh.. bagaimana nih..” gumam Sena ketakutan ia takut salah tingkah lagi bila bertemu dengan Angga. Angga pun menghampiri Ray, Ray pun memperkenalkan kalau ini yang namanya Angga.
Tiba-tiba setelah berkenalan dengan Nateli kakanya Sena, ia kaget kalau ada Sena di samping Nateli.
“Lho! Sena kan..” ucap Angga sambil menunjuk Sena.
“Kalian sudah saling kenal rupanya” ucap Nateli.
“Iya kita satu sekolah kak”
“Ouh… pantas saja, kalau begitu Sena kakak sama Kak Ray mau kesana dulu yah. Ini bekel kamu dimakan lho, bagi juga temen mu ini”
“Iya…Iya kak” Nateli dan Ray pun berlalu meninggalkan Sena dan Angga berdua.
“Sena duduk di situ yuk” ajak Angga. Sena pun membuka tempat bekelnya dan membagi roti sandwich kepada  Angga. Tiba-tiba Sena berkeringat dan itu dilihat oleh Angga, Angga pun mengelap keringat yang mengalir di wajah Sena. Membuat wajah Sena kini memanas.
“Angga.. kamu jangan kaya gini sama aku dong, nanti aku jadi bakalan suka lagi sama kamu Angga..” gumam Sena lalu mengalihkan pandangannya kebawah. Angga tersenyum melihat Sena memakan sandwich dengan lahap. Mungkin itu karena Sena gerogi kali deket Angga.
Tiba-tiba Angga mengunjukan sebuah bandul berbentuk love yang bisa dibuka, kepada Sena.
“Sena ini milik kamu bukan?” tanyanya.
Sekilas Sena Melihat.“Ih iya bener ini punyaku, sini kembalikan kamu belum buka isinya kan?” pinta Sena kepada Angga.
Angga menggeleng-gelngken ke dua kepalanya. “Belum emang isinya apaan?” Tanya Angga penasaran.
“Ihh udah kembaliin dulu sini!” pinta Sena lagi, sambil mencoba merebutnya.
“gak mau, aku buka ahh..”
“ih jangannnn… Angga..”
Sena pun berusaha merebut bandul itu dari tanagn Angga hingga akhinya mereka berdua kejar-kejaran di tepi jalan. Sena terus berlari mengejar Angga yang kini mulai Nampak jauh. Sena takut kalau Angga tau isi di dalam bandul itu ada tulisan Angga is my love for ever. Bisa gawat banget ini, tapi Sena berusaha agar Angga tidak melihatnya ia masih mengejar Angga. Tiba-tiba kakinya tersandung oleh sesuatu hingga menyebabkan dengkul dan kakinya lecet dan juga sedikit berdarah. Angga melihat Sena terjatuh ia segera menolong Sena.
“Kenapa kamu bisa terjatuh Sena…” tanyanya. Sena menatapnya dengan tatapan sinis.
“Pake nanya udah tau salah kamu, aku jadi kaya gini” jawabnya ketus.
“Siapa suruh lari-lari ngejar aku” ucapnya membela diri.
“Ihzz… aduhh…” ucap Sena kesal, lalu ia merasakan sakit pada kakinya.
“Bisa berdiri gak?”
“Enggak, sakit banget nih”
“udah sini biar aku gendong, cepet naik ke punggungku! aku antar kamu sampai rumah”
Akhirnya Sena digendong oleh Angga sampai rumah Sena.

~*Kotak Musik*~
Sekarang Sena dan Angga sedang berada di teras belakang, dekat dengan kolam renang.“Kaki mu lurusini, mau aku obtain nih.” Sena pun meluruskan kakinya, Angga segera mengobati kaki Sena.
“Aaa…duhh..duh..” Sena merintih kesakitan.
“Jangan gerak-gerak dong!” Angga memegangi kaki Sena dengan kencang.
Sena merasa kakinya terasa perih saat Angga mengobati kakinya.“Sakit tau, pelan-pelan dong!” keluh Sena.
“Iya deh maaf. Nah udah selesai” ucapnya seraya membereskan obat-obat yang terdapat di dalam kotak p3k.
“Angga..” ucap Sena polos.
“Apa?” jawabnya.
“Gak.. aku Cuma mau bilang makasih aja.”
“Ouh iya sama-sama,” ucap Angga sambil menatap Sena lurus. Sena tidak berani menatap Angga terlalu lama ia segera bangkit ketika ada yang memanggil namanya diluar.
“Sena…Sena…” teriak seseorang dari luar rumah, sepertinya itu teman Sena.
“Tunggu!” jawab Sena sambil berjalan kearah pintu diikuti dengan Angga. Lalu ia pun membukanya, dilihatnya keluar ya ternyata itu temannya.
“Ada apa Tia?”
“Aku Cuma mau balikin buku yang aku pinjam waktu itu. Ini bukunya” ucap Tia sambil memberi buku itu.
“ouh.. ini” ucap Sena sambil menerima buku yang dikasih oleh Tia.
Tiba-tiba Tia melihat Angga ada di belakang Sena. “Lho ada Angga juga disini. Luha kamu ngapain disini?”
“Yaa ngapain aja boleh dong” ucapnya sambil menyilangkan kedua tangannya di atas perutnya.
“Nanti aku bilangin Rina Lho” Tia mengancam Angga.
“Ihh dasar nih bocah tukang gossip, aku cuman nganterin dia pulang soalnya kakinya sakit” jelas Angga dengan segera.
“Ouhhh…. Kirain ada apa-apa. Eh Sena katanya kamu punya game baru yah? Katanya mau ngasih liat ke aku!” ucap Tia.
“Iya… kamu mau liat?” Tanya Sena.
“Iya aku mau, terus sama mau nyobain juga” jawab Tia tersenyum.
“Yaudah ayo masuk” ajak Sena kepada Tia.
“Ehh aku ikutan” ucap Angga setengah mengejar Sena dan Tia di dalam.
“Angga kamu jangan ikutan, kapan-kapan aja yah soalnya ini tuh game permaRinan buat cewek tau” ucap Tia sambil mendorong Angga keluar.
“Ahhh iya..iya aku keluar. Tapi Nanti kapan-kapan jangan lupa ajak-ajak aku yah”
“Sip.. gampang itu mah” ucap Sena kepada Angga.
“Sena ayo..” ajak Tia sambil menggandeng Sena. Mereka pun berdua bermain di teras setelah Sena mengambil permaRinan itu dari kamarnya. Sebelumnya Sena meminta Tia untuk main dulu sendiri karena dirinya ingin mandi dulu. Lima belas menit kemudian Sena pun turun setelah ia selesai mandi ia pun bergabung dan bermain bersama Tia. Bi Dila pembantu Sena sedang mengantarkan minuman dan satu piring bolu.
“Bagaimana Tia, sulitkah permaRinannya”
“Ya sangat..sangat sulit aku aja dari tadi gak menang-menang” ucapnya seraya mengambil bolu.
“Eh Sena ini permaRinan dari ayah dan ibumu yah?” lanjut Tia.
“Iya.. aku baru dapat paket dari amerika dua hari yang lalu”
“ouh… ngomong-ngomong ayah dan ibumu kapan pulangnya”
“entahlah, mungkin mereka di sana masih sangat sibuk”
“Eh Sena kita suit dulu ayo!
“gunting, batu kertas!” ucap Sena dan Tia serempak.

~*Kotak Musik*~
Malam harinya….
Sena sedang mondar mandir di dalam kamarnya ia Nampak sangat gelisah. Ia duduk di atas kasur dan mengambil sebuah boneka dan memukulnya ke atas kepalanya sendiri. Lalu ia gigit-gigit boneka itu dengan sangat keras. Sena kembali berdiri dan mondar-mandir lagi gak jelas. Ia memukul-mukul kepalanya.
“Kyaaaaaaa…… Yaampun… aduh…. Gimana nih? Aku lupa kalau bandulnya masih ada di Angga kenapa tadi pagi gak di ambil sih!” ucap Sena kesal seraya memukul-mukul kepalanya. “Hadohh… aku sekarang harus bagaimana nih? Aduh aku takut banget kalau dia ngebuka bandul itu, bisa gawat…… nih!!” apa aku harus kerumahnya kali yah? Tapi… kalau dia udah ngebuka bandulnya gimana dong? Hiks..hikss…” Sena menangis sebentar, lalu ia menghapusnya dengan tangannya. “Tidak ada kata terlambat untuk memulainya” Sena pun langsung segera ke luar rumah. Baru saja ia membuka pintu tiba-tiba suara gemuruh awan mulai terdengar, menandakan akan turunnya hujan.
“Uhhh pleass.. jangan hujan dulu. Nanti aja kalau aku udah sampai rumah lagi baru deh boleh hujan sampai besok juga gak apa-apa asal jangan sekarang,” ucap Sena sembari berlari dari rumahnya menuju rumah Angga.
~*Kotak Musik*~

Sampailah Sena di depan rumah Angga, napasnya kini masih terengah-engah. Sena pun memencet bel sambil meneriakan nama Angga.
Tingnung….. Tingnung….
“Angga…..” teriak Sena terengah-engah.
Angga pun membuka pintu dan dilihatnya Sena sedang berdiri di depan pintu rumahnya.
“Ada apa Sena? Malam-malam ke sini”                                                   
“Mana bandul ku” pinta Sena memaksa.
“Bandul? Oouh… ada tuh di kamarku”
“Cepat ambil sekarang!”
“Ambil aja sendiri”
“Yahh ambilin dong. Masa aku yang ambil ke kamar kamu. Itu kan kamar mu”
“Udah ayo masuk”ajaknya masuk kedalam.
“Siapa Angga?” Tanya teman-teman Angga yang sedang bermain game.
“Ini si Sena” Angga pun masuk ke kamarnya dan mengambil bandul itu.
“Sena? ngapain kamu ke sini” Tanya salah satu teman Angga yang juga teman dari Sena yaitu Adit.
“Mau ngambil bandul ku. Ada di dia nih biasa dia itu suka nyolong hati-hati ya sama dia”
“Ihh iya bener. Uang aku masa tiba-tiba ilang kan tadi aku bawa 5000 masa sekarang ilang sih? Janganjangan pelakunya Angga lagi.”
“Eh Adit kamu ini pikun atau apa sih lah kan tadi di pake buat beli es krim”
“Masa sih”
“Itu di tangan apaan?”
“Oh iya hehe..”
“Hahaha.. dasar pikun kamu dit” Semua teman tertawa begitupun juga Sena. Angga pun keluar dari kamarnya dan memberi bandul itu kepada Sena.
“Etss ini apa sih isinya? Penasaran deh”
“Udah sini in ihhh….”
“Kamu mau ini kan? tapi ada syaratnya,”
“Udah cepetan apa?!”
“Kamu harus lawan aku main game, kalau aku menang aku tetep bakal balikin bandul kamu tapi aku bakal ngeliat isinya. Tapi kalau kamu yang menang kamu boleh bawa bandul ini tanpa aku harus ngeliat isinya gimana?” jelas Angga.
“Oke aku sanggup” jawab Sena dengan yakin.
“Wihhh beneran ini, masa cewek maRinan game cowok” ucap Adit.
“Iya kan cewek mah paling maRinan boneka sama masak-masakan” ledek Farid teman Sena dan Angga.
Sena melihat pemilik suara itu dengan tatapan sinis. Sena pun duduk Angga juga duduk di sebelah Sena dan game pun dimulai dari hitungan mundur 3..2……1!!! GO!!!
“Angga, Angga, Angga. Ayo Angga kamu pasti menang” ucap Adit dan Farid dan yang lainnya.
“Eh….Angga ayo! Masa kamu kalah sama cewek sih”
“Kyaaa Angga liat itu… tendang, lari-lari”
“Rebut-rebut bolanya”
“Woi pada berisik. Bisa diam gak sih”
“Huh kamu sih berisik”
Dan siapa yah yang bakalan menang?
“…….”
“……..”
Sepertinya Sena bermain dengan sangat serius mungkin ia terlalu ketakutan jika bandul itu akan di buka Angga. Apalagi kalau ia kalah pasti rasa takutnya makin menjadi.
“Aku harus menang gak boleh kalah aku pasti bisa” gumam Sena.
“Aku gak boleh kalah nih masa kalah sama cewek sih” gumam Angga.
Wow! Sekornya sama yaitu dua sama. Sena harus mencetak satu lagi agar ia bisa menang. Tangannya kini mulai bergetar, Angga pun sama. Dan akhirnya bola itu masuk, masuk ke dalam gawang kira-kira siapa yang menang Angga atau Sena.
“Kyaaaaa……!!!” semua teman-teman berteriak histeris, dan yang memenangkan permaRinan ini adalah Sena. Sena pun akhirnya menang ia patut berbangga diri karena kemenangannya. Angga menutup wajahnya dengan bantal, lalu ia pun memberi bandul itu kepada Sena. Sena pun mengambilnya setelah itu pulang saat dalam perjalanan hujan pun turun dengan sangat lebat ia pun kehujanan tidak ada tempat untuk berteduh. Ia harus lari dengan cepat untuk sampai di rumahnya. Ia terus berlari hujan yang sangat lebat dan angin yang juga cukup kencang.

~*Kotak Musik*~

Akhirnya ia sampai dirumahnya dengan keadaan menggigil dan basah kuyup. Bi Dila melihat Sena yang basah kuyup segera mengantar sampai kamar Sena. Bi Dila memegang dahi Sena, dahi Sena sangat panas dan badannya juga. Bi Dila segera mengambil kompresan dan mengkompres dahi Sena. Bi Dila juga sempat mengganti pakaian Sena yang basah. Bi Dila pun menyelimuti Sena dan Sena pun tertidur.
Saat Bi Dila ingin keluar dari kamar Sena ada Kak Nateli ingin melihat Sena di kamar.
“Bi Sena Kenapa?”
“Tadi Non Sena habis ke hujanan, sekarang badannya jadi panas”
Nateli pun masuk dan melihat ke adaan Sena.

~*Kotak Musik*~

Paginya….
Sena terbangun dengan kompresan di atas kepalanya. Ia melihat ada secarik kertas di atas mejanya iapun mengambil dan membacanya.
Sena kamu udah bangun kan? Kakak udah berangkat kerja.
Sena hari ini kamu jangan masuk sekolah dulu,
Udah kamu di rumah aja, istirahat. Oke, nanti Bi Dila ke kamar mu.
Kakak juga udah ngasih tau wali kelas kamu oh iya sebelumnya kakak mau ngucapin Happy Birthday adiku yang cantik ^^ semoga cepet sembuh ya… s'moga panjang umur & makin dewasa juga.
Sena memegangi kepalanya yang terasa pusing, Bi Dila pun datang membawa bubur dan obat.
“Non ayo di makan buburnya, sini Bibi yang suapin”
Sena pun duduk dan bersender lalu Bi Dila menyuapi Sena. Setelah selesai Bi Dila pun tidak lupa memberi obat kepada Sena. Sena pun meminumnya, lalu ia mengambil kotak hadiah pemberian kakaknya ia pun membukanya. Isinya adalah kue cake lucu bergambar. Sena berharap kalau ia bisa merayakannya bersama ayah dan ibunya. Ia mengambil bandul di atas meja ia membukanya tulisannya masih sama Angga is my love for ever. Sena membuang bandul itu ia harus melupakan Angga, harus memang harus. Minggu lalu Sena selalu melihat Rina dan Angga berduan, mesramesraan membuat hatinya sakit. Ia pun kembali berbaring dan tidur.
~*Kotak Musik*~

Sore harinya, Sena bangun badannya udah agak segeran. Ia pun mengambil handuk dan mandi. Selesai mandi ia turun ke bawah untuk melihat ikan-ikannya  di akuarium. lalu Sena memberi ikan-ikannya makan.
“Non ada surat sama kotak ni buat enon”
“Dari siapa bi?”
“Kurang tau deh, tadi bibi nemu di depan pintu. Bibi permisi dulu ya non mau ke dapur” ucapnya berlalu
Sena mengerutkan keningnya. “Kira-kira siapa yah? Jangan-janagn pengirim yang sama lagi”
Sena cepat-cepat membukanya kotak itu berisikan kota music yang cantik dan terdapat suratnya juga.
Happy Birthday Sena..
Semoga bertambahnya usia, makin soleh, makin cantik dan manis juga. Cepat sembuh ya.. gi mana suka kan dengan kadonya ^^
From : L.N
“Selalu saja pengirim misterius ini L.N sebenernya siapa sih dia? Kenapa orang ini selalu memberi hadiah setiap ulangtahunku” tahun lalu Sena mendapatkan bandul love itu dari pengirim misterius L.N sekarang ia mendapatkan kotak music yang indah.
“Dari mana dia tau kalau aku sakit? Dia memata-mataiku kah?”
“Ade!!!! De!!!”
“Apa sih kak?!”
“Telepon dari dady nih!”
“Hah! Dady! Mana? Mana? Halo… Dady kapan mau pulangnya? Yah masa satu bulan lagi sih. Lama banget dong. Mumy mana Dad? Halo mumy… mumy sama dady lagi di mana? Lagi di gerbang, oh gerbang istana montle yah? Bukan? Terus gerbang jayajo? Bukan juga, terus di mana dong? Hah! Di depan gerbang rumah? Rumah siapa?”
“Mami… Dady….” Seru mereka kompak, setelah melihat dady dan mami-nya membuka pintu.
Mereka pun berpelukan.

TBC
Note : Belum di edit, *males ngeditnya :P udh mentok gk bisa di lanjutin lagi :'( Ignore

Tidak ada komentar: