KOTAK MUSIK
“Aishh….
kenapa sih aku ini?! setiap di depannya aku selalu saja salah tingkah. Aku
seperti mempermalukan diriku sendiri. Hiihh… kenapa aku masih inget sama Angga?
Kenapa sih aku masih suka sama dia? Kenapa? Kenapa? Padahal aku udah berusaha
untuk ngelupainnya. Emang susah sih buat ngelupain seseorang yang kita suka,
tapi kalau buat mencintai seseorang hanya dalam hitungan detik dan menit.
Yaampunn… diriku ini kenapa sih? Ingat Sena! Angga itu udah punya pacar dia gak
bakal suka sama kamu, gak bakal nembak kamu, gak akan pernah. Pasti dia itu
Cuma cintanya sama Rina doang, gak bakal sama yang lain deh…” gumam Sena sambil
berbaring di atas kasurnya dan memeluk boneka di dadanya. Sepertinya Sena sudah
terlihat lelah dan mengantuk. Tanpa ia sadari ia tertidur. Kakak perempuannya
yang baru saja pulang kerja, segera mengecek ke kamar Sena apa Sena sudah tidur
atau belum? Setiap hari di lakukannya rutin.
“Anak
itu sudah tidur rupanya. Wah.. cepat sekali padahal baru jam segini” ucapnya
sambil menyelimuti Sena lalu menatap Sena dengan tatapan sayang antara kakak
dan adik. Mereka tinggal berdua di rumah yang besar, ayah dan ibunya sedang ke
luar negri cukup lama.
~*Kotak Musik*~
Keesokan
harinya….
“Hoammmm…”
Sena menguap panjang. Ia menggaruk-garuk kepalanya yang tidak gatal, ia
mengucek-ngucek kedua matanya yang di penuhi oleh belek. Diliriknya jam waker
berbentuk doraemon di atas lemari kamarnya. “pukul lima lebih dua puluh lima
menit,” gumam Sena. Sena bergegas menuju kamar mandi untuk membersihkan
mukanya.
Tok…Tok…Tok
Terdengar
seseorang mengetuk pintu kamar Sena. “Siapa yaa??” Tanya Sena ia masih
membersihkan mukanya.
“Ini
kakak Sena, kamu lagi di mana?” ucapnya pelan sambil celingak-celinguk masuk ke
dalam kamar Sena.
“Aku
lagi di kamar mandi kak, emang kenapa?” Tanya Sena setengah berteriak.
“jangan
mandi dulu yah!” perintahnya.
“Lho!
Emangnya kenapa? Setiap hari kakak selalu menegurku untuk mandi?” tanyaku
heran.
“Kakak
mau ngajak kamu olahraga, ayo cepat! Kakak tunggu di bawah ya,” ucapnya sambil
keluar dari kamar Sena. Sena pun keluar dari kamar mandi, ia segera menuju
lemari mencari pakaian olahraga. Setelah menemukan baju olahraga itu, ia segera
berganti baju tidurnya dengan baju olahraga, ia pun menyusul kakanya yang sudah
menunggu di bawah terlebih dahulu.
~*Kotak
Musik*~
“Kak
aku belum makan, makan dulu yah” ucapnya setengah berjalan ke dapur.
“Nanti
aja makannya, nih kakak udah bawa roti sandwich kesukaan mu sama minuman
kesukaanmu”
“Yee
Asikk….” Ucap Sena Senang, sambil bertepuk tangan sekali.
“Yaudah
ayo!” ajaknya sambil mengunci pintu rumah.
Mereka
pun berjalan jogging di tepi jalan dengan semangat, tapi tidak tau kenapa
kakaknya Sena sepertinya dari tadi senyum-senyum sendiri. Mungkin ia memikirkan
sesuatu yang lucu, itu membuat Sena merasa bingung dan heran pada kakanya.
Sekitar
jam tujuh pagi, Kakak Sena mengajak Sena Senam pagi di taman nitenz tempat
biasa di mana orang-orang berolahraga disana. Saat Sena melihat banyak sekali
yang Senam di sini mulai dari anak kecil, dewasa hingga kakek, nenek ada
disini. Sena dan kakanya pun mengikuti gerakan Senam dari belakang.
Sekitar
pukul delapan Senam pun selesai. Semua orang sekarang sedang beristirahat.
Sena
dan kakaknya sedang mencari tempat duduk untuk memakan bekal mereka, tapi
tiba-tiba saja ada yang meneriakan nama kakaknya Sena. “Natelii! Nateli!” seru
suara itu membuat Sena dan kakaknya menoleh kebelakang. Sena melihat seorang
pemuda tinggi putih, tampan sedang berjalan kearah kakanya Sena, nampaknya itu
teman kakaknya Sena.
“Hai
Nateli, kesini sama siapa?” Tanya pemuda itu dengan ekspresi wajah ceria.
“Sama
adikku, ini adik ku namanya Sena, Sena ini temen kakak namanya Ray” ucap
kakaknya memperkenalakan Sena. Sena pun tersenyum manis, Sena di puji oleh Ray
kalau Sena cantik dan manis seperti kakaknya.
“Ray
kamu kesini sama siapa?” Tanya Ray balik.
“Kalau
aku sama temen tetanggaku, nah itu orangnya sebentar aku panggil dulu”
“Angga!
Angga!” teriak Ray kepada Angga.
“Hah
Angga! Apa? Angga ada disini! OMG! Aduhh.. bagaimana nih..” gumam Sena
ketakutan ia takut salah tingkah lagi bila bertemu dengan Angga. Angga pun
menghampiri Ray, Ray pun memperkenalkan kalau ini yang namanya Angga.
Tiba-tiba
setelah berkenalan dengan Nateli kakanya Sena, ia kaget kalau ada Sena di
samping Nateli.
“Lho!
Sena kan..” ucap Angga sambil menunjuk Sena.
“Kalian
sudah saling kenal rupanya” ucap Nateli.
“Iya
kita satu sekolah kak”
“Ouh…
pantas saja, kalau begitu Sena kakak sama Kak Ray mau kesana dulu yah. Ini
bekel kamu dimakan lho, bagi juga temen mu ini”
“Iya…Iya
kak” Nateli dan Ray pun berlalu meninggalkan Sena dan Angga berdua.
“Sena
duduk di situ yuk” ajak Angga. Sena pun membuka tempat bekelnya dan membagi
roti sandwich kepada Angga. Tiba-tiba
Sena berkeringat dan itu dilihat oleh Angga, Angga pun mengelap keringat yang
mengalir di wajah Sena. Membuat wajah Sena kini memanas.
“Angga..
kamu jangan kaya gini sama aku dong, nanti aku jadi bakalan suka lagi sama kamu
Angga..” gumam Sena lalu mengalihkan pandangannya kebawah. Angga tersenyum
melihat Sena memakan sandwich dengan lahap. Mungkin itu karena Sena gerogi kali
deket Angga.
Tiba-tiba
Angga mengunjukan sebuah bandul berbentuk love yang bisa dibuka, kepada Sena.
“Sena
ini milik kamu bukan?” tanyanya.
Sekilas
Sena Melihat.“Ih iya bener ini punyaku, sini kembalikan kamu belum buka isinya
kan?” pinta Sena kepada Angga.
Angga
menggeleng-gelngken ke dua kepalanya. “Belum emang isinya apaan?” Tanya Angga
penasaran.
“Ihh
udah kembaliin dulu sini!” pinta Sena lagi, sambil mencoba merebutnya.
“gak
mau, aku buka ahh..”
“ih
jangannnn… Angga..”
Sena
pun berusaha merebut bandul itu dari tanagn Angga hingga akhinya mereka berdua kejar-kejaran
di tepi jalan. Sena terus berlari mengejar Angga yang kini mulai Nampak jauh.
Sena takut kalau Angga tau isi di dalam bandul itu ada tulisan Angga is my love for ever. Bisa gawat
banget ini, tapi Sena berusaha agar Angga tidak melihatnya ia masih mengejar Angga.
Tiba-tiba kakinya tersandung oleh sesuatu hingga menyebabkan dengkul dan
kakinya lecet dan juga sedikit berdarah. Angga melihat Sena terjatuh ia segera
menolong Sena.
“Kenapa
kamu bisa terjatuh Sena…” tanyanya. Sena menatapnya dengan tatapan sinis.
“Pake
nanya udah tau salah kamu, aku jadi kaya gini” jawabnya ketus.
“Siapa
suruh lari-lari ngejar aku” ucapnya membela diri.
“Ihzz…
aduhh…” ucap Sena kesal, lalu ia merasakan sakit pada kakinya.
“Bisa
berdiri gak?”
“Enggak,
sakit banget nih”
“udah sini biar aku gendong, cepet naik ke punggungku! aku antar kamu sampai rumah”
“udah sini biar aku gendong, cepet naik ke punggungku! aku antar kamu sampai rumah”
Akhirnya
Sena digendong oleh Angga sampai rumah Sena.
~*Kotak
Musik*~
Sekarang
Sena dan Angga sedang berada di teras belakang, dekat dengan kolam renang.“Kaki
mu lurusini, mau aku obtain nih.” Sena pun meluruskan kakinya, Angga segera
mengobati kaki Sena.
“Aaa…duhh..duh..”
Sena merintih kesakitan.
“Jangan
gerak-gerak dong!” Angga memegangi kaki Sena dengan kencang.
Sena
merasa kakinya terasa perih saat Angga mengobati kakinya.“Sakit tau,
pelan-pelan dong!” keluh Sena.
“Iya
deh maaf. Nah udah selesai” ucapnya seraya membereskan obat-obat yang terdapat
di dalam kotak p3k.
“Angga..”
ucap Sena polos.
“Apa?”
jawabnya.
“Gak..
aku Cuma mau bilang makasih aja.”
“Ouh
iya sama-sama,” ucap Angga sambil menatap Sena lurus. Sena tidak berani menatap
Angga terlalu lama ia segera bangkit ketika ada yang memanggil namanya diluar.
“Sena…Sena…”
teriak seseorang dari luar rumah, sepertinya itu teman Sena.
“Tunggu!”
jawab Sena sambil berjalan kearah pintu diikuti dengan Angga. Lalu ia pun
membukanya, dilihatnya keluar ya ternyata itu temannya.
“Ada
apa Tia?”
“Aku
Cuma mau balikin buku yang aku pinjam waktu itu. Ini bukunya” ucap Tia sambil
memberi buku itu.
“ouh..
ini” ucap Sena sambil menerima buku yang dikasih oleh Tia.
Tiba-tiba Tia melihat Angga ada di belakang Sena. “Lho ada Angga juga disini. Luha kamu ngapain disini?”
Tiba-tiba Tia melihat Angga ada di belakang Sena. “Lho ada Angga juga disini. Luha kamu ngapain disini?”
“Yaa
ngapain aja boleh dong” ucapnya sambil menyilangkan kedua tangannya di atas
perutnya.
“Nanti
aku bilangin Rina Lho” Tia mengancam Angga.
“Ihh
dasar nih bocah tukang gossip, aku cuman nganterin dia pulang soalnya kakinya
sakit” jelas Angga dengan segera.
“Ouhhh….
Kirain ada apa-apa. Eh Sena katanya kamu punya game baru yah? Katanya mau
ngasih liat ke aku!” ucap Tia.
“Iya…
kamu mau liat?” Tanya Sena.
“Iya
aku mau, terus sama mau nyobain juga” jawab Tia tersenyum.
“Yaudah
ayo masuk” ajak Sena kepada Tia.
“Ehh
aku ikutan” ucap Angga setengah mengejar Sena dan Tia di dalam.
“Angga
kamu jangan ikutan, kapan-kapan aja yah soalnya ini tuh game permaRinan buat
cewek tau” ucap Tia sambil mendorong Angga keluar.
“Ahhh
iya..iya aku keluar. Tapi Nanti kapan-kapan jangan lupa ajak-ajak aku yah”
“Sip..
gampang itu mah” ucap Sena kepada Angga.
“Sena
ayo..” ajak Tia sambil menggandeng Sena. Mereka pun berdua bermain di teras
setelah Sena mengambil permaRinan itu dari kamarnya. Sebelumnya Sena meminta
Tia untuk main dulu sendiri karena dirinya ingin mandi dulu. Lima belas menit
kemudian Sena pun turun setelah ia selesai mandi ia pun bergabung dan bermain
bersama Tia. Bi Dila pembantu Sena sedang mengantarkan minuman dan satu piring
bolu.
“Bagaimana
Tia, sulitkah permaRinannya”
“Ya
sangat..sangat sulit aku aja dari tadi gak menang-menang” ucapnya seraya
mengambil bolu.
“Eh
Sena ini permaRinan dari ayah dan ibumu yah?” lanjut Tia.
“Iya..
aku baru dapat paket dari amerika dua hari yang lalu”
“ouh…
ngomong-ngomong ayah dan ibumu kapan pulangnya”
“entahlah,
mungkin mereka di sana masih sangat sibuk”
“Eh
Sena kita suit dulu ayo!
“gunting,
batu kertas!” ucap Sena dan Tia serempak.
~*Kotak
Musik*~
Malam
harinya….
Sena
sedang mondar mandir di dalam kamarnya ia Nampak sangat gelisah. Ia duduk di
atas kasur dan mengambil sebuah boneka dan memukulnya ke atas kepalanya
sendiri. Lalu ia gigit-gigit boneka itu dengan sangat keras. Sena kembali
berdiri dan mondar-mandir lagi gak jelas. Ia memukul-mukul kepalanya.
“Kyaaaaaaa……
Yaampun… aduh…. Gimana nih? Aku lupa kalau bandulnya masih ada di Angga kenapa
tadi pagi gak di ambil sih!” ucap Sena kesal seraya memukul-mukul kepalanya.
“Hadohh… aku sekarang harus bagaimana nih? Aduh aku takut banget kalau dia
ngebuka bandul itu, bisa gawat…… nih!!” apa aku harus kerumahnya kali yah?
Tapi… kalau dia udah ngebuka bandulnya gimana dong? Hiks..hikss…” Sena menangis
sebentar, lalu ia menghapusnya dengan tangannya. “Tidak ada kata terlambat
untuk memulainya” Sena pun langsung segera ke luar rumah. Baru saja ia membuka
pintu tiba-tiba suara gemuruh awan mulai terdengar, menandakan akan turunnya
hujan.
“Uhhh
pleass.. jangan hujan dulu. Nanti aja kalau aku udah sampai rumah lagi baru deh
boleh hujan sampai besok juga gak apa-apa asal jangan sekarang,” ucap Sena
sembari berlari dari rumahnya menuju rumah Angga.
~*Kotak
Musik*~
Sampailah
Sena di depan rumah Angga, napasnya kini masih terengah-engah. Sena pun
memencet bel sambil meneriakan nama Angga.
Tingnung…..
Tingnung….
“Angga…..”
teriak Sena terengah-engah.
Angga
pun membuka pintu dan dilihatnya Sena sedang berdiri di depan pintu rumahnya.
“Ada apa Sena? Malam-malam ke sini”
“Mana bandul ku” pinta Sena memaksa.
“Bandul? Oouh… ada tuh di kamarku”
“Cepat ambil sekarang!”
“Ambil aja sendiri”
“Yahh ambilin dong. Masa aku yang ambil ke kamar kamu. Itu
kan kamar mu”
“Udah ayo masuk”ajaknya masuk kedalam.
“Siapa Angga?” Tanya teman-teman Angga yang sedang bermain
game.
“Ini si Sena” Angga pun masuk ke kamarnya dan mengambil
bandul itu.
“Sena? ngapain kamu ke sini” Tanya salah satu teman Angga
yang juga teman dari Sena yaitu Adit.
“Mau ngambil bandul ku. Ada di dia nih biasa dia itu suka
nyolong hati-hati ya sama dia”
“Ihh iya bener. Uang aku masa tiba-tiba ilang kan tadi aku
bawa 5000 masa sekarang ilang sih? Janganjangan pelakunya Angga lagi.”
“Eh Adit kamu ini pikun atau apa sih lah kan tadi di pake
buat beli es krim”
“Masa sih”
“Itu di tangan apaan?”
“Oh iya hehe..”
“Hahaha.. dasar pikun kamu dit” Semua teman tertawa begitupun
juga Sena. Angga pun keluar dari kamarnya dan memberi bandul itu kepada Sena.
“Etss ini apa sih isinya? Penasaran deh”
“Udah sini in ihhh….”
“Kamu mau ini kan? tapi ada syaratnya,”
“Udah cepetan apa?!”
“Kamu harus lawan aku main game, kalau aku menang aku tetep bakal
balikin bandul kamu tapi aku bakal ngeliat isinya. Tapi kalau kamu yang menang
kamu boleh bawa bandul ini tanpa aku harus ngeliat isinya gimana?” jelas Angga.
“Oke aku sanggup” jawab Sena dengan yakin.
“Wihhh beneran ini, masa cewek maRinan game cowok” ucap
Adit.
“Iya kan cewek mah paling maRinan boneka sama masak-masakan”
ledek Farid teman Sena dan Angga.
Sena melihat pemilik suara itu dengan tatapan sinis. Sena
pun duduk Angga juga duduk di sebelah Sena dan game pun dimulai dari hitungan
mundur 3..2……1!!! GO!!!
“Angga, Angga, Angga. Ayo Angga kamu pasti menang” ucap Adit
dan Farid dan yang lainnya.
“Eh….Angga ayo! Masa kamu kalah sama cewek sih”
“Kyaaa Angga liat itu… tendang, lari-lari”
“Rebut-rebut bolanya”
“Woi pada berisik. Bisa diam gak sih”
“Huh kamu sih berisik”
Dan siapa yah yang bakalan menang?
“…….”
“……..”
Sepertinya Sena bermain dengan sangat serius mungkin ia
terlalu ketakutan jika bandul itu akan di buka Angga. Apalagi kalau ia kalah
pasti rasa takutnya makin menjadi.
“Aku harus menang gak boleh kalah aku pasti bisa” gumam
Sena.
“Aku gak boleh kalah nih masa kalah sama cewek sih” gumam Angga.
Wow! Sekornya sama yaitu dua sama. Sena harus mencetak satu
lagi agar ia bisa menang. Tangannya kini mulai bergetar, Angga pun sama. Dan
akhirnya bola itu masuk, masuk ke dalam gawang kira-kira siapa yang menang Angga
atau Sena.
“Kyaaaaa……!!!” semua teman-teman berteriak histeris, dan
yang memenangkan permaRinan ini adalah Sena. Sena pun akhirnya menang ia patut
berbangga diri karena kemenangannya. Angga menutup wajahnya dengan bantal, lalu
ia pun memberi bandul itu kepada Sena. Sena pun mengambilnya setelah itu pulang
saat dalam perjalanan hujan pun turun dengan sangat lebat ia pun kehujanan
tidak ada tempat untuk berteduh. Ia harus lari dengan cepat untuk sampai di
rumahnya. Ia terus berlari hujan yang sangat lebat dan angin yang juga cukup
kencang.
~*Kotak
Musik*~
Akhirnya ia sampai dirumahnya dengan keadaan menggigil dan
basah kuyup. Bi Dila melihat Sena yang basah kuyup segera mengantar sampai
kamar Sena. Bi Dila memegang dahi Sena, dahi Sena sangat panas dan badannya
juga. Bi Dila segera mengambil kompresan dan mengkompres dahi Sena. Bi Dila
juga sempat mengganti pakaian Sena yang basah. Bi Dila pun menyelimuti Sena dan
Sena pun tertidur.
Saat Bi Dila ingin keluar dari kamar Sena ada Kak Nateli
ingin melihat Sena di kamar.
“Bi Sena Kenapa?”
“Tadi Non Sena habis ke hujanan, sekarang badannya jadi
panas”
Nateli pun masuk dan melihat ke adaan Sena.
~*Kotak
Musik*~
Paginya….
Sena terbangun dengan kompresan di atas kepalanya. Ia
melihat ada secarik kertas di atas mejanya iapun mengambil dan membacanya.
Sena kamu
udah bangun kan? Kakak udah berangkat kerja.
Sena hari
ini kamu jangan masuk sekolah dulu,
Udah kamu
di rumah aja, istirahat. Oke, nanti Bi Dila ke kamar mu.
Kakak juga
udah ngasih tau wali kelas kamu oh iya sebelumnya kakak mau ngucapin Happy
Birthday adiku yang cantik ^^ semoga cepet sembuh ya… s'moga panjang umur &
makin dewasa juga.
Sena memegangi kepalanya yang terasa pusing, Bi Dila pun
datang membawa bubur dan obat.
“Non ayo di makan buburnya, sini Bibi yang suapin”
Sena pun duduk dan bersender lalu Bi
Dila menyuapi Sena. Setelah selesai Bi Dila pun tidak lupa memberi obat kepada
Sena. Sena pun meminumnya, lalu ia mengambil kotak hadiah pemberian kakaknya ia
pun membukanya. Isinya adalah kue cake lucu bergambar. Sena berharap kalau ia
bisa merayakannya bersama ayah dan ibunya. Ia mengambil bandul di atas meja ia
membukanya tulisannya masih sama Angga is my love for ever. Sena membuang bandul itu ia harus
melupakan Angga, harus memang harus. Minggu lalu Sena selalu melihat Rina dan Angga
berduan, mesramesraan membuat hatinya sakit. Ia pun kembali berbaring dan
tidur.
~*Kotak
Musik*~
Sore
harinya, Sena bangun badannya udah agak segeran. Ia pun mengambil handuk dan
mandi. Selesai mandi ia turun ke bawah untuk melihat ikan-ikannya di akuarium. lalu Sena memberi ikan-ikannya
makan.
“Non
ada surat sama kotak ni buat enon”
“Dari
siapa bi?”
“Kurang
tau deh, tadi bibi nemu di depan pintu. Bibi permisi dulu ya non mau ke dapur”
ucapnya berlalu
Sena
mengerutkan keningnya. “Kira-kira siapa yah? Jangan-janagn pengirim yang sama
lagi”
Sena
cepat-cepat membukanya kotak itu berisikan kota music yang cantik dan terdapat
suratnya juga.
Happy
Birthday Sena..
Semoga
bertambahnya usia, makin soleh, makin cantik dan manis juga. Cepat sembuh ya..
gi mana suka kan dengan kadonya ^^
From
: L.N
“Selalu
saja pengirim misterius ini L.N sebenernya siapa sih dia? Kenapa orang ini
selalu memberi hadiah setiap ulangtahunku” tahun lalu Sena mendapatkan bandul
love itu dari pengirim misterius L.N sekarang ia mendapatkan kotak music yang
indah.
“Dari
mana dia tau kalau aku sakit? Dia memata-mataiku kah?”
“Ade!!!!
De!!!”
“Apa
sih kak?!”
“Telepon
dari dady nih!”
“Hah!
Dady! Mana? Mana? Halo… Dady kapan mau pulangnya? Yah masa satu bulan lagi sih.
Lama banget dong. Mumy mana Dad? Halo mumy… mumy sama dady lagi di mana? Lagi
di gerbang, oh gerbang istana montle yah? Bukan? Terus gerbang jayajo? Bukan
juga, terus di mana dong? Hah! Di depan gerbang rumah? Rumah siapa?”
“Mami…
Dady….” Seru mereka kompak, setelah melihat dady dan mami-nya membuka pintu.
Mereka
pun berpelukan.
TBC
Note : Belum di edit, *males ngeditnya :P udh mentok gk bisa di lanjutin lagi :'( Ignore
Note : Belum di edit, *males ngeditnya :P udh mentok gk bisa di lanjutin lagi :'( Ignore